PROBLEMATIKA PERKAWINAN

Oleh : Khoirunnisak Seputri

 

Perkawinan menurut undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 (pasal 1) adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga), yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pertimbangannya adalah sebagai negara yang berdasarkan Pancasila dimana sila yang pertamanya ialah Ketuhanan Yang Maha Esa, maka perkawinan mempunyai hubungan yang erat dengan agama/kerohanian, sehingga perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahir/jasmani, tetapi unsur batin/rohani juga mempunyai peranan yang penting. Membentuk keluarga yang bahagia rapat hubungannya dengan turunan, yang merupakan pula tujuan perkawinan, pemeliharaan dan pendidikan menjadi hak dan kewajiban orangtua.

Perkawinan dapat dilihat dalam 3 segi pandangan :

  1. Dari segi hukum

Dipandang dari segi hukum, perkawinan adalah perjanjian yang sangat kuat karena adanya :

  • Cara mengadakan ikatan perkawinan telah diatur terlebih dahulu yaitu dengan akad nikah dan rukun atau syarat tertentu.
  • Cara menguraikan atau memutuskan ikatan perkawinan juga telah diatur sebelumnya yaitu dengan prosedur talak, kemungkinan fassakh, syiqaq dan sebagainya. Kalau seorang perempuan dan seorang laki-laki berkata sepakat untuk melakukan perkawinan satu sama lain berarti mereka saling berjanji akan taat pada peraturan-peraturan hukum yang berlaku mengenai kewajiban dan hak-hak masing-masing pihak selama dan sesudah hidup bersama itu berlangsung, dan mengenai kedudukannya dalam masyarakat dari anak-anak keturunannya. Juga dalam menghentikan perkawinan, suami dan istri tidak leluasa penuh untuk menentukan sendiri syarat-syarat untuk penghentian itu, melainkan terikat juga pada peraturan hukum perihal itu.
  1. Dari segi sosial

Dalam segi sosial dalam suatu perkawinan, di dalam masyarakat ditemui suatu penilaian bahwa orang yang berkeluarga atau pernah berkeluarga mempunyai kedudukan yang lebih dihargai dari mereka yang tidak kawin.

  1. Dari segi agama

Pandangan suatu perkawinan dari segi agama merupakan suatu segi yang sangat penting. Dalam agama, perkawinan itu dianggap suatu lembaga yang suci. Upacara perkawinan adalah upacara yang suci, yang kedua pihak dihubungkan menjadi pasangan suami istri atau saling meminta menjadi pasangan hidupnya dengan mempergunakan nama Allah.

Dalam kehidupan rumah tangga, meskipun pada mulanya suami-istri penuh kasih sayang seolah-olah tidak akan menjadi pudar, namun pada kenyataannya rasa kasih sayang itu bila tidak dirawat bisa menjadi pudar, bahkan bisa hilang berganti dengan kebencian. Jika kebencian sudah datang, dan suami-istri tidak dengan sungguh-sungguh mencari jalan keluar dan memulihkan kembali kasih sayangnya, akan berakibat negatif bagi anak keturunannya. Oleh karena itu, upaya memulihkan kembali kasih sayang merupakan suatu hal yang perlu dilakukan.

Dalam ajaran islam, suami-istri tidak boleh terlalu cepat mengambil keputusan bercerai. Walaupun dalam ajaran islam ada jalan penyelesaian terakhir yaitu perceraian, namun perceraian adalah suatu hal yang meskipun boleh dilakukan tetapi dibenci oleh Nabi. Setiap ada sahabat yang datang kepadanya yang ingin bercerai dengan istrinya, Rasulullah selalu menunjukkan rasa tidak senangnya seraya berkata, “hal yang halal tapi sangat dibenci Allah adalah perceraian. Untuk mencapai perdamaian antara suami-istri bilamana tidak dapat diselesaikan oleh mereka, maka islam mengajarkan agar diselesaikan melalui hakam, yaitu dengan mengutus satu orang yang dipercaya dari pihak laki-laki dan perempuan guna berunding sejauh mungkin untuk didamaikan.

Namun terkadang dua hati yang tadinya satu dan penuh kasih sayang, disebabkan berbagai hal sekarang sudah tidak lagi dapat dipertemukan atau didamaikan. Dalam kondisi demikian, satu dari tga hal mungkin terjadi :

Pertama, suami-istri sepakat untuk tetap dalam tali pernikahan, meskipun dua hati itu tidak lagi merasa tenteram dalam satu rumah tangga. Hal ini sangat mungkin terjadi dengan adanya pertimbangan-pertimbangan tertentu dari kedua belah pihak.

Kedua, tetap dalam tali perkawinan, tetapi terpisah rumah dan adakalanya sang suami berpisah rumah, tidak pula memenuhi nafkah istrinya. Alternatif ini sering terjadi dan disaksikan dalam masyarakat. Jalan ini mereka pilih dengan berbagai motivasi. Ada yang disebabkan semata-mata kurangnya rasa tanggung jawab laki-laki, akan tetapi ada pula yang semata-mata hendak mendzalimi istrinya karena ada suatu dendam yang tidak bisa ia lepaskan kecuali dengan cara demikian.

Ketiga, dengan memilih jalan talak. Talak berarti mengakhiri hubungan pernikahan. Dengan talak, berarti masing-masing mantan istri dan mantan suami mengambil jalan hidupnya sendiri-sendiri.

 

Daftar Pustaka

Ramulyo, Idris. 2002. Hukum Perkawinan Islam. Jakarta : PT Bumi Aksara

Zein, Satria Effendi M. 2004. Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer. Jakarta : Prenada Media

 

 

DISPENSASI KAWIN DAN KEPENTINGAN TERBAIK BAGI ANAK

Musthofa, S.H.I, M.H dan Ahmad Taujan Dzul Farhan, S.H. (Para Hakim Pengadilan Agama Bajawa)

Menjaga wibawa dan Martabat Peradilan melalui Protokol Persidangan dan Keamanan

Peradilan sering disebut benteng terakhir penegakan hukum namun benteng tersebut seringkali diterobos oleh kepentingan pribadi oknum penegak hukum, pihak berperkara, Read more

PENERAPAN ASAS SEDERHANA, CEPAT, DAN BIAYA RINGAN TERHADAP PERKARA GUGATAN SEDERHANA DALAM SENGKETA EKONOMI SYARIAH

Penyelesaian sengketa dengan acara sederhana telah meningkatkan kemudahan berusaha dan dapat memberikan akses lebih baik terhadap keadilan, termasuk dalam perkara Read more

Ekonomi Syariah sebagai Kasus Ranah Baru bagi Advokat

Belakangan ini perekonomian di Indonesia sedang booming dengan ekonomi syariah. Ekonomi syariah di Indonesia berawal dari munculnya perbankan berbasis syariah Read more

Artikel yang Direkomendasikan

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchGermanIndonesian