MITIGASI BENCANA

Menurut Pasal 1 ayat 6 PP No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, mitigasi bencana merupakan sebuah rangkaian upaya guna mengurangi risiko bencana, baik lewat pembangunan fisik atau penyadaran dan peningkatan kemampuan dalam menghadapi ancaman bencana.

Gempa bumi merupakan suatu peristiwa bergetarnya atau berguncangnya permukaan bumi akibat tumbukan antar lempeng bumi, aktivitas sesar (patahan), letusan gunung api, maupun runtuhan bebatuan.

Bukan karena kebetulan, gempa bumi yang kerap terjadi di Indonesia disebabkan karena Indonesia terletak di antara tiga lempengan tektonik, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Hindia-Australia. Kondisi ini mengakibatkan Indonesia rentan mengalami bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api.

Wilayah yang rawan mengalami gempa bumi di Indonesia tersebar mulai dari Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Maluku Utara dan wilayah Papua.

Gempa bumi bersifat merusak dan bisa terjadi kapan saja dan dalam waktu singkat maupun beberapa menit. Di Indonesia, kita bisa mengikuti informasi terkait gempa bumi di laman BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika).

Langkah Prabencana atau Sebelum Terjadi Bencana Gempa Bumi yang Bisa Dilakukan:

  1. Menyiapkan rencana untuk penyelamatan diri apabila gempa bumi terjadiRencana ini amat perlu terutama di daerah dengan riwayat gempa bumi yang cukup sering terjadi.
  2. Dalam menghadapi gempa bumi, seseorang perlu mempelajari latihan penyelamatan saat gempa bumi terjadi. Hal ini akan meminimalisir jatuhnya korban jiwa. Latihan tersebut di antaranya seperti merunduk, perlindungan terhadap kepala, berpegangan ataupun dengan bersembunyi di bawah meja.
  3. Saat terjadi gempa bumi banyak hal tak terduga yang bisa terjadi. Memiliki beberapa alat penyelamatan sangat dianjurkan yaitu alat pemadam kebakaran, alat keselamatan standar, dan persediaan obat-obatan.
  4. Perlunya membangun konstruksi rumah yang tahan terhadap guncangan gempa bumi dengan fondasi yang kuat. Selain itu, Anda bisa merenovasi bagian bangunan yang sudah rentan.
  5. Memperhatikan daerah rawan gempa bumi dan aturan seputar penggunaan lahan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Karena gempa bumi bisa terjadi kapan saja, bahkan saat Anda berada di mana saja. Berikut merupakan hal yang bisa Anda lakukan saat berada di dalam bangunan, seperti rumah, sekolah ataupun bangunan bertingkat:

  • Guncangan gempa bumi akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu tersebut, upayakan keselamatan diri Anda dengan cara berlindung di bawah meja untuk menghindari dari benda-benda yang mungkin berjatuhan dan jauhi jendela kaca. Lindungi kepala dengan bantal atau pun helm, dan bisa pula berdiri di bawah pintu. Bila sudah terasa aman, segera lari keluar rumah.
  • Apabila Anda sedang memasak, segera matikan kompor serta cabut dan matikan semua peralatan yang dialiri listrik untuk mencegah terjadinya kebakaran.
  • Bila keluar rumah, perhatikan kemungkinan pecahan kaca, genteng, atau material lain. Tetap lindungi kepala dan segera menuju ke lapangan terbuka, jauhi tiang, pohon, atau sumber listrik atau gedung yang mungkin roboh dan menimpa anda.
  • Jangan menggunakan lift apabila sudah terasa guncangan. Gunakan tangga darurat untuk evakuasi keluar bangunan. Apabila sudah di dalam elevator, tekan semua tombol atau gunakan interphone untuk panggilan kepada pengelola bangunan.
  • Kenali bagian bangunan yang memiliki struktur kuat, seperti pada sudut bangunan.
  • Apabila Anda berada di dalam bangunan yang memiliki petugas keamanan, ikuti instruksi evakuasi.

Apabila mendengar peringatan dini tsunami usai gempa bumi, segera lakukan evakuasi menuju ke tempat tinggi, seperti bukit dan bangunan tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *